Jual Yanto saat krisis Covid 19

Ramadhan ke tiga. Bakda magrib, berawal inbox di wasap.

"Mas aku udah sisiran, minyak wanginanPamit 
ibu juga. Mau tarawih keliling, di rumah mu"

"Aku lagi gak menerima tamu"

"Oh gitu, tapi aku bawa sup bauh buat sampean,
ya udahlah ya. Tak buang aja. Kan lagi gak nerima tamu?"
“Anu, Kayaknya ibu ku punya deh kalo sekedar mangkuk”

Dua orang pemuda, bergelar semester tua. Mereka dirumahkan
akibat ulah corona. kirek “Bajingan, sue-sue edan koyo iki terus"
neng omah kayak dipenjara. 

Tak pikir iki corona gawean menungso, Suoog.” Tuturnya. 
Suara adzan isya berkumandang, ramai jamaah lalu lalang.

Maklum masjid berada di belakang rumah. Ndak Etis blas. 
Jika diteruskan ngobrol diteras rumah. Ku ambil handphone dan Telephone 
seseorang.

“Posisi? Warung mu Buka?”
“Kedai, Buka-Buka”
”Ok, Otw”

Aku gercep masuk rumah, ambil sweater, dompet, charger, dan segera
meninggalkan rumah. Pasalnya, kemarin warga menggelar ibadah 
solat tarawih, seperti biasa. Setelah selesai, takmir masjid  kena semprit, dipanggil oleh
pak kadus. Dan dibawa kediaman pak Lurah. Pak Camat & kapolsek 
pun sedang kopdar dirumah yang sama.  

Kebetulan banget, tetangga ku adalah kediaman beliau. Ibadah aja 
digabur apalagi. Ah sudahlah. 10 menit setelah itu. Kopi, kentang goreng, 
kemebul asapnya diatas meja. Kunyalakan ujung rokok & situesen,
dengan pancingan pertanyaan.

Aku “Pie rik sibuk opo dirimu neng omah?”
Kirik "Ah yo ngene-ngene ae mas”
Inu “Ndobos, cah kui saiki bisnis karo pak de Yanto”
Kirik “Jilak, ora ndes”
Inu “Wani titid nya ilang ? bisnis sektor pangan”
Kirik ”Mulut inu lancip kek angry bird warna kuning!”
Aku “cerito loh, ngapusi-ngapusi ra popo“

Kirik ”Haasyuuk. Hp taruh meja kabieh.”
Mak bruk. Suara handphone berbenturan dengan meja. Kirik pun mulai 
bertausiyah. Seminggu, semenjak movement stay dirumah aja digembar-
gemborkan. 

Aku diserang sindrom gabut bianget. Buka tutup sosmed saban hari.
Udah jadi syndrome outputnya jelas, Un-produktif. Namun, tetep tak lakoni FB-an.
Ada posting open adopsi monyet. Usia setengah bulan, harga sekianlah. 
Dengan dalih pelapak gak kuat ngopeni, beli pempersnya berat. 
Dasare gabut ra kesuen, tak tumbas. Simonyet pun menempuh jalur ekspedisi.

Sesampainya diaku, monyet ini stress diperjalanan, wa-jingan. Niat meh 
golek hiburan malah ketar-ketir. Tanyalah di grup FB, monyet kalau stress 
perjalanan obatnya apa lur? 

Indikasi lemes, maunya digendong. Ada yang komen, kasih minum 
insana kalo simonyet demam. Kurangin dosisnya, Samain kaya bayi aja. 
Satu tablet dibagi dua. Nekat. Tak coba. Ealah, dua hari boboknya pules,
saking khusuknya. Makan dan minum aja tidak.

Duh nek bablas ra tangi. Modiaar, hati bergumam. Dengan inisatif tinggi, 
langsung ku gendong ke kamar mandi minim cuci muka. Syukur-syukur 
wudzu terus mimpin jam’ah solat. Syukur dia bangun, maka wajib syukuran 
ala Crazyrich atas kesembuhannya. Namun sohibul hajat, kurang berkenan. 
Akhirnya ku pilih jalan tengah. 

Dengan memberi sebuah pisang ukuran jumbo. Sembari dia menikmati
hidangan, ku perhatikan dengan seksama. Sangat mirip dengan pak de yanto.
Spontan, ku bisikan ke telinganya. Sekarang nama mu Yanto.

Nama yang proporsional, dan tidak lebih bagus dari namaku. Diam artinya 
setuju. Sah, ku jabat tangannya. Ibu & bapak ku sepakat atas kemiripan itu
Yakin ga boong. Benar saja, Yanto mulai paham. Saat ku panggil To!!!

Dengan nada keras, maka dia berhenti berulah. Soal pemeliharaan, tergolong susah-
suhah gampang. Soal makanan, dia tak menuntut harus Beef burger deluxe & 
Mc Flurry feat Oreo. Cukup pisang, auto sujud syukur. Dia piawai menampilkan drama. 

Terlebih sebelum dia mandi. Mungkin dibenaknya jika mandi. Maka “madrasah TPQ”. 
Bisa juga, pengasuh  sebelumnya tak melazimkan “apung” sore. 

Namun, bagiku. Yanto musti apung & ganti pempers. Pasalnya, tidurnya 
sekamar dengan ku. Selain itu Selera outfitnya patut diteladani. Kiblat 
fashionnya stylish. Tetapi tidak terikat dan tidak mengikuti tren.  Maka, 
softex dibalut solatip. Sudah sangat Chic Fashion, biianget baginya. Sesekali 
waktu, yanto minta jalan-jalan keliling komplek. 

Entah minta ibu asuh atau mau mamer outfitnya. Selepas bakda magrib, dia 
udah mulai menguap bahkan tidur. Jam tidurnya tepat dan tertib. Kalo malem
gak rewel minta susu atau ganti pempers. Tapi kalau subuh tiba. Rese-nya gak 
ketulungan, ngusel-usel dan gangu tidur ku. Akhir-akhir ini, muncul rasa iba 
ke yanto, Pacar ku. Ku bujuk agar jait baju untuk yanto. Dia mau Tanpa banyak tapi, 
Fix ini mukjizad.  

Walaupun milih model dan warna mudah. Namun susah menentukan ukuran. 
Tak kalah akal, kami fitting dia. Khidmat dia santap pisang pengalih perhatian. 
Sembari kami cicil ukuran busananya. Beberapa kali sewaktu ibadah video call 
dengan doi, Eh malah dia nimbrung, kecil-kecil udah napsuan. Perhatianya lebih 
besar ke yanto. Jingan koe dhe.!! Tentu tak sampai hati emosi ku.

Namun, akibat wabah covid 19 kondisi ekonomi ku. Ruwet. Ku putuskan 
supaya yanto di adopsi oleh orang lain. Dari pada terlibat puasa ramadhan.
Belum lagi kalo puasanya sebulan penuh, khawatir minta di belikan petasan 
kan repot. Tak lama, setalah parasnya mejeng di lini masa. Ada yang kepincut, 
bersedia ngadopsi. Mbak-mbak asli soerabaja. Dibela-belain Video call segala.

Naluri MC ku keluar, dengan gaya bicara ala Robbie purba. “Single Men 
Tampilkan Pesona mu”. Yanto menyihir single ladies, dengan muka memelas. 
Gilasih, sebagai single men. dia kategori pro player, Penampilannya terukur dan 
taktis. Tiada lampu merah yang menyala. Namun dibabak final harus memilih. 
Lima menit kemudian. Deal, yanto dibungkus.“Koe ncen rejekeni to.”

Ku, sempatkan bicara empat mata dengan yanto. Wejangan, sekaligus perpisahan. 
Nanti sore yanto study tour ya.? ke soerabaja. Naik bus, Iya AC & ada toiletnya
Gak usah khawatir, nanti disediain bekal. Pisang sama boneka buat teman 
diperjalanan. Kalo sudah sampai kasih kabar. Via wasap atau email. 
Yang paling penting, Kalau sudah 1 bulan transfer uang ya muach...

Sepurone pak de, aku ngelih dadi koe tak dol. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Banding The grapes of warth dan Bumi Manusia

Tamparan indah teruntuk sarjana muda.