Riding dari Yogya to Lombok
NEKAT IALAH ILMU BODOH tapi INDAH.
Tiba tiba
seorang bocah berambut ikal ”bodat” namanya dari di dalam sebuah toko
bertriak hey dib come here, jelang beberapa menit berteriak kencag lagi. Dia
memanggil wilman, dan Asep. dalam sekejap kita berempat duduk di meja yang
sama. Sambil tersenyum dia memperlihatkan gambar yang ada di handphone miliknya
berkatalah dia, pantai ini bagus kapan kita berjemur di sana.? Kita bertiga
berpandang-pandangan sambil menerka apa maksud perkataanya. Dirasa tak jelas
kemana arahnya asep berkata apa maksud dari perkataan serta gambar itu.? Apa kau
hendak mengejek kami, kurasa
tanpa harus berjemur cukup gelap warna kulit kami.
Begitupun mereka berdua, iya bukan. Asep pandangi motor di luar sana milik Wilman dan bodat. Sambil tersenyum ia menuturkan kata tampaknya motor kalian berdua cukup kuat untuk membawa kita sampai pada foto di handphone itu. Apa kalian kurang tidur? Tanya si adib. Pantai itu adalah gili trawangan, yang berada di NTB dua hari dua malam jika kita tempuh dengan sepeda motor dari tempat ini. Sudahlah kalian memang tak waras. Wilman menyambar apa salahnya kalau di coba kita punya waktu luang di libur semester ini. Semunya terdiam hanya mata yang berbicara melihat gambar itu. Bodat bangun dari duduknya sambil memegang handphonenya dan memperlihatkan pada semua orang yang ada di warung tentang pulau Lombok dan gili trawangan.
Lombok I love you, Lombok I love you, nyayian itu yang terucap dari mulutnya. Sepontan asep bersuara ok kita voting adib kau mau ikut ke Lombok dengan berkendara sepeda motor atau tidak.? Sedikit ragu dia jawab ok, giliran wilman bagaimana dengan mu will, teramat malas rasanya jikalau waktu libur hanya untuk mengendarai sepeda motor menuju kota seribu masjid itu. Tapi lebih malas jauh lebih mengenaskan jika liburan hanya mimpi berjalan menuju Lombok, dia berkata I am in. 5 hari kemudian kita berempat duduk bersama dan memastikan tanggal 15 keberangkatan. Semua yang serba setengah matang ini di akhiri. karena adib dan asep harus pulang ke rumah yang ada di jawa tengah dan tasikmalaya untuk menengok keluarganya.
Sedangkan bodat dan wilman mereka tetap tinggal di jogja menunggu kedatangan duo A. Dua hari kemudian mereka mendapat kabar adib terkena gejala tipes. Dan tebaring sejak dia sampai di rumah hingga sekarang 1 minggu lamanya, padahal kurang 4 hari, menjelang pemberankatan dengan rencana yang mereka sepakati. Di sisi lain bodat ternyata pergi ke bogor dan Jakarta mengunjungi adik kandungnya padahal waktu itu Jakarta sedang di landa banjir. 2 hari menjelang pemberankatan sesuai kesepakatan kita harus berkumpul di Jogjakarta. Bodat dari Jakarta, asep dari tasik, adib dari Batang, sudah di tunggu oleh wilman. si bodat berencana menuju Jogjakarta dengan kereta api, pesanlah dia tiket kreta api dan jadwal pemberakatan pagi pukul 07.00 wib. lega rasanya setelah mendapat tiket, dengan tiket ini aku akan memulai perjalanan yang jauh. Pagi itu bodat tidur sangat nyenyak, hingga telat bangun, buru-burulah dia menuju stasiun hasilnya adalah muka yang tertunduk lesu, hangus sudah tiket yang tadinya membuat dia merasa lega malah sebaliknya. Tidak ada pilihan lain bodat harus naik bus, terminal bus lebak bulus tujuannya. Sedikit tawar menawar dengan agen bus dia dapati tiket bus dengan harga yang melecit, bus ekonomi antar lintas sumatra yang dia tunggangi dengan fasilitas kodok ngorek katanya, Tanpa pikir panjang di bayar tiket itu dan sampailah dia di Jogjakarta.
XT squre tempat kita berkumpul dan menentukan pemberankatan. Semua anggota hadir dengan membawa cerita masing-masing. Esok paginya pukul 09.00 kami berempat berangkat dari Jogjakarta menuju Lombok. Tidak lupa kita berdoa sebelum memulai perjalanan yang nekat ini, agar mendapat perlindungan dari Allah yang maha melindungi. Setelah selesai berdoa kita satukan helm dan berteriak Lombok!! pedes.!! Perjalanan dimulai adib mengendarai sepeda motor dengan patnernya wilman, sedangkan asep bersama bodat. Baru 15 menit berkendara bodat minta istirahat dengan alasan haus, terpaksa kita menepi dan minum terlebih dahulu. Istirahat sejenak sambil mengisi bahan bakar sepeda motor sekiranya 20 menit kami habiskan.
kembalilah kami kejalanan, kota demi kota kita lewati. mulai dari klaten, boyolali, solo, hingga perbatasan jawa tengah dan jawa timur yakni ngawi. Perut kami keroncongan. Keputusannya aalah makan siang walau hanya sekedar pecel yang kita jumpai di perbatasan ini. Adib berkata kalau mau tau suatu daerah juga harus makan, makanan daerahnya. Tanpa menunggu lama karena lapar sudah pada titik puncaknya bodat makan dengan lahapnya, kami bertiga mengikuti. Bodat selesai lebih dahulu dari makannya dan kemudian berjalan ke kasir, bertanya pada kasir berapa buk? Rp 13.000 mas. Garuk kepala sambil menenggok kearah kita bertiga. Dibayarnya oleh dia sambil ngomel kok mahal ya. Padahalkan Cuma pecel dan gorengan sudah kaya masakan padang saja. Giliran adib, wilman, asep mau bayar penjaga kasir bilang sudah di bayarkan temennya mas. Seketika itu kami mengejar bodat dan tertawa di depannya wkwkwkwk. Memang wajah mu memenuhi syarat untuk di bohongi kata wilman. Perjalanan ke arah timur kita lanjutkan hingga kita sampai di pasuruan pukul 24.00 wib, kami putuskan untuk bermalam di masjid. Dengan bekal sleeping bag sudah bisa mimpi indah.
Adzan subuh berkumandang bangun dan mandi adalah kewajiban setelah mandi debu dan asap kendaraan bermotor dijalanan sejak kemarin. Setelah itu menghangatkan badan dengan segelas susu dan teh masuk dalam agenda. Berjalan menuju kota penyebrangan Banyuwangi baru berkendara bersama dalam kurun waktu 5 menit, menjumpai persimpanganan dengan kecepatan 80 km/hour bersandingan. Adib sebagai pilot maskapai mio soul. Mengambil arah lurus sedangkan asep belok kea rah kanan. Persimpangan itulah membuat kita berpisah. Adib berbalik arah mencoba mencari asep dan setelah berputar-putar dirasa tidak bertemu dia berbicara pada wilaman dan bertekat melanjutkan perjalanan dengan harapan bisa bertemu asep dan bodat di pelabuhan penyebrangan menuju bali.
Dia lanjutkan perjalanan, dipagi yang dingin itu bersama wilman dengan dua tas besar di sepeda motornya. 10 km sudah di tempuhnya dan memasuki kota Bondowoso tiba-tiba mucul asep dari belakang dan bodat mereka seketika tertawa setelah menjumpai kita berdua. Wilman dan adib larut dalam tawa bahagia, akibat perpisahan singkat itu. Adib menggumam di dalam hati Singo, Terkadang kita baru merasa kehilangan seseorang setelah orang itu pergi. Terimakasih tuhan kau pertemukan kita lagi dalam perjalanan sebelum sampai di banyuwangi, di atas dua roda ini. Di antara tawa bahagia ini, diantara sinar matahari dan dinginnya pagi. Di sisi lain mungkin tuhan menguji niat serta tekad kami, misal salah satu dari kami berempat memutuskan untuk balik arah menuju jogja apa jadinya perjalan ini, ada sedikit pesan dari tuhan melalui perpisahan tadi. Kami mengisi bahan bakar sepeda motor serta mengisi kewijban perut.
Sarapan pagi khas pesisir pantai jawa timur. Setelah sarapan perjalanan kita lanjutkan. Kurang lebih 1 jam perjalanan kita jumpai hutan dengan jalan yang berliku-liku, naik turun di kawasan banyuwangi. Banyak monyet-monyet yang kita jumpai sepanjang jalan ini, seolah dia menjamu kedatangan kami. Mungkin ia berharap seseorang akan membagi sedikit bekal makanan yang di bawanya, namun nyatanya tidak ada satu pun yang di berikan pada mereka dasar manusia serakah kata si monyet dalam imajinasi adib. Sampai di tempat penyebrangan kita beli tiket di lanjutkan memasukan kendaraan ke dalam kapal fery. Adib, Asep, Wilman memilih duduk di dek bagian samping kapal sambil melepas lelah dan memandangi laut lepas selat ini. Bodat memilih duduk di depan panggung hiburan menyilangkan satu kaki. Menyimak penyayi yang mendendangkan musik dangdut (oseng banyuwangi). Tersenyumlah dia kearah kami tak ada rasa lelah yang tergambar dalam raut wajahnya.
Hoorn-hooorrn suara bell kapal fery yang akan menepi ke pelabuhan gilimanuk terdengar nyaring di telinga. Sesampai di gilimanuk semua penumpang yang akan masuk pulau bali di cek satu-persatu identitasnya oleh petugas pelabuhan. Seketika Bodat yang berada di barisan paling belakang berteriak tidak kurang pak.? sambil menatap seorang petugas pelabuhan seolah menantang berkelahi. Takut situasi memburuk wilman, asep, dan adib segera mendekat membantu menyelesaikan masalah dengan baik. Ternyata bodat tidak membawa identitas diri, kartu tanda penduduk (ktp), surat ijin mengemudi (sim), dan yang lainnya, tidak ada satupun kartu pengenal yang dia bawa, tidak ada pilihan jika dia mau melanjutkan perjalanan harus membayar uang denda Rp 50.000 pada petugas, dengan keras dia jawab tidak kurang pak? Memang negeri ini belum merdeka, sudah 60 tahun Belanda angkat kaki dari bangsa ini, namun pahitnya masih terasa. Petugas tidak menjawab pernyatan yang bodat lontarkan.
Dia ambil uang dikasihnya pada petugas, segera pula kita lanjutkan perjalanan. sepanjang jalan adib bercerita pada wilman, hey will. sadarkah kau sejak kita mulai berjalan menuju Lombok ini kita di suguhi pemandangan yang luar biasa, kalau kita bisa melihat, jamuanya selalu berbeda. Mulai dari rumput yang hijau, ribuan hektar hutan beserta monyet-monyetnya. Ribuan hektar sawah, ribuan hektar pantai berpasir putih, hingga ribuan hektar perbukitan tanah dewata ini. Tuhan, bagaimana bangsa lain tidak cemburu melihat indonesia sekaya ini. Engkau berikan segalanya pada bangsa ini. Memang dib semuanya ada di negeri ini, semuanya! Mulai dari gelandangan, pengamen, pengemis, pekerja seksual, peternak, buruh pabrik, petani, serta tikus- tikus petani. jawab si wilman. Bodat pun bernyanyi sepanjang jalan sambil menikmati suguhan alam yang memanjakan mata, sehingga dia lupa terhadap tikus-tikus pelabuhan yang memaksa mengeluarkan uang dari dompetnya.
perjalanan kami memasuki kawasan kuta. Namun sebelum sampai dipantai kuta kita sempatkan beristirahat untuk istirahat sebentar di circle. Duduklah kita berempat di meja yang panjang. Kali ini bodat iseng mecoba bertanya pada seseorang. Bermaksut minta di tunjukan arah ke pantai kuta. Setelah berbicara banyak, orang yang dia ajak bicara tidak menjawab satu kata pun, dia kebingungan. dia berusaha menawari orang itu rokok. Tetap sjja diam, kemudian dia coba tawarkan air minum tetap tiada respon. Hal ini semakin membuat bodat bingung, roti yang di makannya pun di tawarkan pada orang itu. Dia malah melotot dan merebut roti yang ada di tangan bodat kemudia pergi menjauh. Tak lama kemudian penjaga toko yang melihat kejadian dari dalam toko. Keluar dan berkata maaf mas orang tadi orang gila, dia sering di sini. Mohon di maafkan kalau anda merasa lebih waras. Ketawalah kami bertiga sejadi-jadinya melihat muka bodat yang memerah. Hua hau hau hua……wkwkwk. Orang gila di ajak bicara. Jadi siapa yang sebenarnya gila dat ? wilman menggoda hahahahaha. malam ini kita tidak kenyang bukan karena makanan justru kenyang tawa. Senyum canda tawa itu mengiringi perjalan kami di malam hari untuk menikmati pantai kuta dengan cahaya bulan.
Tak lama kemudian adib berbicara namun entah pada siapa kalau di kuta saja seindah ini bagaimana dengan Lombok? Bali bukan tujuan kami tetapi… kalimat itu terpotong tidak selesai. Bergegaslah kami pakai helm dan kembali menyusuri jalanan dengan lampu utama rembulan tanah dewata, tersesat itu lah kata yang paling tepat. Namun tak lama kemudian jps serta rembulan berbaik hati menunjukan jalan kearah pelabuhan padang bai. Tak sampi dua jam kita sudah sampai di padang bai pelabuhan penyebrangan dari bali menuju pulau Lombok. Kita dapati tiket dari petugas. Masuklah kami dengan segala barang bawaan ke kapal fery. 6 jam lamanya perjalan laut yang harus kita tempuh di malam yang hampir pagi. Sebelum kita terpejam kami sempatkan, mengucapan terimaksih pada tuhan yang memberikan keselamatan sejauh ini.
Hooorrn hoorrn suara itu terdengar
sangat jelas dalam tidur kami beranjaklah keluar dan kami tatap pula Lombok
dengan mata telanjang serta tubuh yang belum tersentuh air sejak tidur tadi. kapal-kapal fery berbaris rapi di tepi pelabuhan Lembar. Seolah berkata kepada
kami, selamat datang. Selamat berwisata jangan lupa untuk bahagia. Kami balas
juga dengan senyum terimakasih para kapal serta penduduk Lombok. Kami datang ke
pada mu, untuk pembuktian keindahan. Bukan bedarkan cerita orang
melainkan dari cerita kami yakni bodat, wilman, asep, dan adib.
Kelak kita yang
akan menceritakan semua tentang mu yang
kami dengar, lihat, rasa, dalam perjalanan ini. Mulai dari pasir putih mu, gelombang ombak laut mu, perahu nelayan mu,
gili trawangan mu, gili meno mu, gili kondo mu, dan seribu masjid
mu. Pada
mereka, orang yang ada di seberang
sana kita akan bercerita hingga mulut kami tak bisa lagi berbicara, hingga mata
ini buta, hingga telinga ini tak mampu mendengar suara, hingga perasa kami sirna, Indonesia surga.
Tulisan ini sudah berusia sejak libur semester 4 silam tepat
ketika kami sampai yogyakarta. dan sebangun tidur itu gunung kelud berbagi cerita lewat asap tebal yang menyelimuti seluruh wilayah yogya.
Mirzza.
Komentar
Posting Komentar